SUKABUMI

Hari Anak Nasional 2026, Alfamart Edukasi Gizi dan Salurkan 510 Ribu Butir Telur

Published

on

SUKABUMIKITA.ID Komitmen Alfamart dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting di Indonesia kembali diperkuat melalui Program Satu Telur Sehari (STS). Memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional 2026, perusahaan tidak hanya menyalurkan bantuan protein hewani kepada ribuan anak, tetapi juga meningkatkan edukasi gizi kepada para orang tua agar upaya pencegahan stunting berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Di Kota Sukabumi, sebanyak 35 anak penerima manfaat bersama orang tuanya mengikuti kegiatan edukasi gizi yang digelar di Aula Kantor Kelurahan Nanggeleng, Rabu (29/07/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Program Satu Telur Sehari yang telah memasuki tahun keempat pelaksanaannya.

Pada tahun 2026, Alfamart menargetkan 2.700 anak terindikasi stunting di 39 kabupaten/kota sebagai penerima manfaat. Selama enam bulan pelaksanaan program, perusahaan menyalurkan lebih dari 510.000 butir telur sebagai bagian dari intervensi gizi bagi anak usia 1 hingga 3 tahun.

Edukasi Gizi Jadi Kunci Pencegahan Stunting

Tidak hanya menyalurkan bantuan telur, Alfamart juga melibatkan tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi kepada para orang tua mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak usia dini.

Tim Ahli Gizi Puskesmas Nanggeleng, Ines, menjelaskan bahwa masa balita merupakan periode emas pertumbuhan anak yang harus didukung dengan asupan gizi seimbang agar risiko stunting dapat ditekan.

Menurutnya, penerapan pedoman “Isi Piringku” yang terdiri atas makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah menjadi salah satu langkah penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

“Protein berkualitas seperti telur merupakan sumber asam amino esensial yang mudah diperoleh dan memiliki harga terjangkau. Konsumsi satu butir telur matang setiap hari sangat dianjurkan untuk mendukung pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan kecerdasan anak,” ujar Ines.

Ia juga mengingatkan bahwa orang tua perlu lebih kreatif dalam mengolah makanan agar balita tidak mudah bosan.

Beberapa menu seperti dadar pelangi maupun tahu sarang burung dapat menjadi alternatif penyajian telur yang lebih menarik bagi anak. Namun demikian, orang tua tetap diminta memperhatikan kemungkinan alergi makanan serta membatasi konsumsi telur asin yang memiliki kandungan natrium cukup tinggi.

Selain pola makan, Ines menekankan pentingnya penerapan empat pilar gizi seimbang, yakni mengonsumsi makanan beragam, membiasakan perilaku hidup bersih, melakukan aktivitas fisik secara rutin, dan memantau berat badan anak secara berkala.

Satu Telur Setiap Hari Selama Enam Bulan

Program Satu Telur Sehari menyasar anak usia 1 hingga 3 tahun yang terindikasi mengalami stunting berdasarkan pendataan bersama Dinas Kesehatan dan kader Posyandu di masing-masing daerah.

Setiap anak menerima bantuan satu butir telur setiap hari selama enam bulan. Distribusi dilakukan secara berkala melalui Dinas Kesehatan maupun kader Posyandu sehingga proses pendampingan terhadap keluarga penerima manfaat dapat berlangsung secara berkesinambungan.

Melalui mekanisme tersebut, kondisi tumbuh kembang anak dapat dipantau secara berkala sehingga intervensi yang diberikan menjadi lebih optimal.

Program Terus Berkembang dari Tahun ke Tahun

Pelaksanaan Program Satu Telur Sehari menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan sejak pertama kali dijalankan.

Pada tahun 2022, Alfamart menyalurkan 177.000 butir telur kepada 1.000 anak di 10 kabupaten/kota.

Program kemudian berlanjut pada 2024 dengan distribusi 103.000 butir telur kepada 591 anak di 12 kabupaten/kota.

Setahun berikutnya, cakupan program diperluas menjadi 25 kabupaten/kota melalui penyaluran 189.000 butir telur kepada 1.000 anak.

Sementara pada 2026, Program Satu Telur Sehari mencapai skala pelaksanaan terbesar sejak pertama kali digelar, yakni lebih dari 510.000 butir telur untuk 2.700 anak di 39 kabupaten/kota.

Monitoring Tunjukkan Perbaikan Status Gizi Anak

General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, mengatakan perluasan program dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dari pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memperkuat upaya penurunan stunting di Indonesia.

“Program ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Perluasan ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas pihak mampu menghadirkan dampak yang semakin besar dalam mendukung upaya penurunan stunting di Indonesia,” kata Rani.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya telur yang didistribusikan, tetapi juga perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

Berdasarkan hasil monitoring internal Alfamart tahun 2025, sekitar 72 persen anak penerima manfaat mengalami peningkatan berat badan, yang menjadi salah satu indikator membaiknya status gizi mereka.

Hasil tersebut menjadi dasar bagi Alfamart untuk terus memperkuat kualitas program melalui edukasi dan pendampingan keluarga.

“Intervensi gizi akan lebih optimal ketika dibarengi dengan peningkatan pengetahuan orang tua. Karena itu, kami tidak hanya memberikan telur, tetapi juga menghadirkan edukasi langsung dari para ahli agar keluarga memahami pentingnya gizi seimbang, pola makan yang tepat, serta pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak melalui kegiatan pemberdayaan,” ujar Rani.

Ia berharap Program Satu Telur Sehari tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan protein anak selama pelaksanaan program, tetapi juga mampu membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga.

“Harapannya, Program Satu Telur Sehari membentuk kebiasaan hidup sehat dalam keluarga dan berkontribusi pada upaya nasional menekan angka stunting,” tutupnya.

Kolaborasi Jadi Kunci Percepatan Penurunan Stunting

Program Satu Telur Sehari menjadi salah satu contoh kolaborasi antara sektor swasta, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mendukung agenda nasional percepatan penurunan stunting.

Melalui kombinasi bantuan pangan bergizi dan edukasi kepada orang tua, Alfamart berharap intervensi yang dilakukan tidak hanya berdampak pada peningkatan status gizi anak dalam jangka pendek, tetapi juga membentuk pola hidup sehat yang berkelanjutan demi menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version